Sekarang... berita baiknya novel sudah didaftarkan di perpus. Judul? haha... ganti lagi, dan lebih baik kali ini dirahasiakan.
Terima kasih.
Novel Belenggu Cinta Suamiku
Kamis, 23 Februari 2012
Kamis, 26 Januari 2012
Hari ke-27 - Perjuangan tak ada kata selesai
Selesai, selesai selesai... benar-benar selesai..
Proyek satu bulan, dikerjakan dalam berbagai cuaca dan kondisi. Hujan deras, angin badai, matahari yang membakar silih berganti menerpa hari-hari selama 27 hari ini. Dan saya harus berjuang keras... benar-benar berjuang. Hampir menyerah karena terlalu banyak beban bersamaan.
Minggu, 22 Januari 2012
Bagian 9 - Belenggu Cinta (Tamat)
Cuplikan halaman 1 - 3
Satu persatu, Allah mengambil orang-orang
yang disayangi Lia. Dua tahun setelah kepergian Arman, giliran ibu mertuanya
menutup mata karena sakit parah yang dideritanya sejak shock karena kepergian
putra kesayangannya. Lima tahun kemudian, saat Lia baru kembali dari Jepang,
ibu Lia meninggal dunia juga karena sakit. Ayah Lia yang terlalu berduka
ditinggalkan oleh sang istri tercinta menyusul kepergiannya hanya dalam
hitungan bulan. Namun tak satupun dari kepergian mereka meninggalkan kesedihan
yang sama sedalam kesedihan Lia saat suaminya pergi.
Kepedihan kehilangan
orang-orang yang dicintainya satu persatu mampu ia hilangkan dalam sekejap saat
menyibukkan diri dalam berbagai pekerjaan dan ditambah lagi beberapa kegiatan
sosial. Lia bahkan mendirikan yayasan membawahi kegiatan-kegiatan sosialnya.
Bagian 8 - Impiannya Impianku
Menangis takkan pernah mengembalikan Arman padanya. Waktu
telah banyak terbuang, dan Lia tak ingin duduk diam saja. Ia sudah mendapatkan
amanah dari Arman, ia harus tegar dan kembali beraktivitas. Walaupun sesekali
ia masih tak bisa menahan diri untuk tidak terkenang pada almarhum suaminya.
Bagian 7 - Pesan Terakhir
Dinding kamar ini mungkin sudah lelah
mendengar jerit Lia, dalam doa yang selalu ia panjatkan dalam setiap sholatnya
beberapa hari terakhir ini. Lia tak ingin menyerah, meskipun ia tahu semua akan
sia-sia.
Semalam mata Lia sangat sulit terpejam.
Bahkan saat sampai di sepertiga malam, namun sulit sekali bagi Lia melepas
kerinduan di hatinya. Airmatanya tak bisa berhenti meleleh, hatinya tak mampu
menghilangkan bayang Arman.
Lia merindukan
belaian sayang dan kecupan mesra Arman sebelum tidur. Setiap
malam Lia menunggunya di kamar
tidur dan berharap esok pagi ia terbangun dengan sosok Arman di sebelahnya.
Langganan:
Entri (Atom)
